Ngobrol bareng....

Berasal

Kamis, 06 Agustus 2009

Kebahagian Semu dari TKW

“Hidup memang harus diperjuangkan Dek, apapun itu akan kulakukan untuk kebahagian bersama” Itu yang dikatakan temanku saat kutayakan “Kenapa harus menjadi TKW ???” sudah dua tahun dia menjadi buruh kasar di negri jiran, dia cerita majikannya baik bahkan sering memberikan bonus untuknya, sambil membeberkan ceritanya dia membagi-bagikan oleh-oleh dari kerjaanya katanya tas hitam ini dari anak majikannya.”Baguskan kayak punya artis-artis itu Dek” selorohnya sambil menebar senyum pada semua orang yang hadir di ruang tengah rumahnya. Tangannya menunjuk TV layar datar dihadapan kami lengan bajunya terangkat dan tersembullah gelang berkilauan dari tangannya yang hitam manis.

Di Indramayu memang banyak yang memutuskan untuk menjadi TKW bahkan mungkin menjadi yang terbanyak dari jawa barat. Dari pada melanjutkan sekolah apalagi masuk dunia perkuliahan mendingan menjadi TKW. Alasannya TIDAK ADA BIAYA, alasan yang klise tapi begitulah keadaanya. Rumah-rumah disekitar rumahku sudah banyak bergaya perumahan. rumah orang tuanya yang beralaskan tanah dipugar menjadi marmer, tidak cukup dengan antena, parabola merentang diatas rumah yang dulu dinaungi pohon jambu merah, adiknya menenteng HP keluaran baru, dan yang menakjubkan lagi motornya berjejer dihalaman. Inikah hidup yang mereka inginkan? Beginikah kebahagian itu? Harus menempuh jarak jauh memisahkan diri dari orang yang terkasih.

Mungkin itu cerita dari TKW yang sukses, bagaimana dengan cerita Siti Hajar yang wajahnya disetrika, tubuhnya babak belur, jarinya melepuh. Oh begitu sakit rasanya mendengar saudara kita yang disebut sebagai pahlawan devisa harus menerima perlakuan biadab seperti itu. Rasanya perutku mual mendengar berita ada TKW yang terjun dari lantai berapa karena tak tahan disiksa oleh majikannnya, atau pulang-pulang dibuntingi majikannya. Kadang aku juga ingin menampar suami yang berselingkuh di balik istrinya yang berjuang keras di negri orang, uang kirimannya dihamburkan di meja judi, anaknya ditelantarkan kadang harus diasuh oleh neneknya yang renta mengangakat gelas teh saja gemetar apalgi harus mengurus cucunya yang masih perlu perhatian dari ibunya.

Dan tadi sore aku liat di SCTV bahwasannya banyak saudara kita yang sedang mengadu nasib di Arab Saudi harus rela tidur dibawah kolong jembatan. Ada yang karena sudah tak akui oleh majikannya lagi, dan belum ada orang dari kedubes memeriksanya padahal mereka sangat butuh pertolongan. Para TKW berharap dideportasi oleh Negara bersangkutan supaya gratis pulang. Duh saudaraku yang katanya engkau telah menyumbang 90 milyar dan itu sama saja dengan 10% pendapatan APBN kita harus menerima segala perlakukan yang menyakitkan.

Mereka pergi dengan harapan bahwasannya sepulangnya dari perantauan akan mendapatkan hidupnya telah berganti. Tapi banyak dari mereka yang belum sampai tujuan sajadihadang dengan birokrasi yang aneh, harus bayar dengan sejumlah uang besar dijanjikan langsung cepat berangkat nyatanya mereka malah dikirim untuk diperjual belikan (traffiking). Ada banyak PT yang illegal yang nggak jelas juntrungannya lantas para TKW dijerumuskan menjadi pendatang illegal, terpaksa bersembunyi dari petugas imigrasi. Ya Robbi selamatkan mereka.

Kadang aku bertanya dimana pemerintah itu? dimana janji mereka itu? Yang aku tahu andaikan lapangan pekerjaan banyak tersedia mungkin masyarakat kita tak perlu mengais dinegara orang lain.

0 komentar:

Poskan Komentar