Ngobrol bareng....

Berasal

Kamis, 20 Agustus 2009

Negeri 5 Menara (Man Jadda Wajada)


Judul : Negeri Lima Menara

Penulis : A. Fuadi

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : Juli 2009

Tebal : 416 hal

ISBN : 978-979-22-4861-6

Harga : 50.000 ,_

Man Jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Pepatah dari Arab itu masuk mengaliri jiwa Alif, mengendap di dalamnnya dan berhasil menjadi pedongkrak kebimbangan dari keputusan yang Ia ambil. Pergi dari kampung halaman yang permai di danau maninjau yang biru lantas sekarang berkelana di desa yang jauh di Jawa Timur. Itu berarti mengamini perintah Amaknya yang menginginkan anaknya seperti Buya Hamka padahal Alif sendiri ingin seperti Pak Habibie. Perasaan yang setengah hati itu sekarang merembes hilang di bawa mantra sakti mandraguna, Man jadda wajada. Yang di ucapkan oleh kyai Rois saat pembukaan santri baru.

Di Pondok Madani (PM) Alif harus berjuang melawan segala rintangan, dari jajaran keamanan pondok disana bersamayan Tyson yang siap dengan sepeda hitamnnya menjarah para warga PM yang tidak berlaku disiplin yang artinya telah melanggar qanun yang telah ditetapkan dan tak pernah tertulis tersebut karena aturan di PM harus terukir di dalam ingatan semua santri. Dan saat saat itulah Tyson dengan tidak sengaja telah menyatukan meraka di dalam hukuman jewer berantai. Dialah para terdakwa Alif dari Minang, Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Menjadi para Sohibul Menara.

Para Sohibul Menara yang dalam bahasa Indonesianya bararti pemilik menara, sebelum adzan maghrib mereka selalu berkumpul di bawah menara sambil ngobrol ngalor ngidul dan ketika menatap awan mereka mempermasalahkan bentuk awan itu seperti yang ada dalam imajinasi masing-masing, ada yang mirip dengan Benua Eropa, Amerika, Afrika bahkah ada yang tetep mengatakan itulah Indonesia. Dan mereka berharap mendarat di negeri-negeri apa yang telah di imajikan dalam bentuk awan tersebut.

Novel ini, di persembahkan dari hati mungkin, karena sumpah kata-katanya menggedor-gedor jiwa yang sedang resah, atau bagi yang telah merasa capek bahwasannya usahanya telah sepersekian banyaknya tapi belum terjangkau juga. Mimpi-mimpi yang mungkin sudah lama mengantung di angkasa sana ketika tinggal sedikit lagi mendekat di jatuhkan oleh suatu hal, rencana yang tersusun rapih malahan harus rela di rebut orang lain. Mungkin kini saatnya kita harus mengenal kembali konsep keikhlasan, pengabdian tiada batas. Kepada guru-guru kita yang telah rela merentas jalan untuk menunjukan yang baik. Kepada pengurus yang dengan ikhlasnya mengabdikan dirinya untuk mengurus santri yang datang dari berbagai latar belakang.

Karena saya sempat menjadi seorang santri membaca buku ini tidak susah untuk membayangkannya, gimana riuhnya antri dikamar mandi, berebutnya saat melihat pengumuman, atau gimana perasaannya saat-saat penantian wesel dari orang tua ketika sedang muflis benar. Teman disini sudah seperti bayangan saja dimana-mana menemukan dia. Tapi disini lebih parah lagi kalau bayangan kan di tempat yang gelap tak terlihat nah ini kawan di gelapnya kamar masih selalu saja ada dia. Nah, dengan selalu adanya teman disamping kita kadang persaingan begitu terlihatnya apalagi saat-saat mau ulangan. Duh Rabbi setiap mata memandang yang terlihat adalah hawa pelajaran.

Biasanya kalau mau masuk kelas tak ada tuh yang rela masih membawa buku kemana-mana, di bawah pohon kelengkeng, pohon mangga, dipinggir tangga, di depan wc sampai suasana di pinggir jemuran adalah aura ujian.

Tapi kadang juga kenapa hasilnya beda yah, tidur di tempat yang sama, makan dengan lauk yang sama, minum dari sumber yang sama pula tapi koq hasilnya beda yah?? Dia bisa sambil menghapal Al qur’an di sela sibuknya rutinitas, dia bisa mendapatkan nilai sepuluh saya cuma enam, dan kenapa pula dia tidak ngantuk waktu mujahadah ataupun saat tahajud. Dan di novel ini di kuaklah segala rahasia.

“Iya, rugi kalau harus stres, mending kita bekerja keras. Wali kelasku pernah memberi motivasi yang sangat mengena di hati. Katanya kalau ingin sukses dan berprestasi dalam bidang apapun. maka lakukanlah dengan prinsip “saajtahidu fauqa mustawa al-akhyar”. Bahwa aku akan berjuang diatas rata-rata yang dilakukan orang lain. Fahimta. Ngerti kan?”

“Lihatlah, berapa perbedaan antara juara satu lari 100 meter dunia? Cuma 0, 00 sekian detik dibanding saingannya. Berapa beda jarak juara renang dengan saingannnya? Mungkin hanya satu ruas jari! Untuk juara hanya butuh sedikit lebih baik dari orang kebanyakan! Sudah lebih terasa kekuatannya?” halaman 383.

Novel kesatu karena akan ada triloginya, setebal itu dengan cepat saja saya lahap, mungkin karena bercerita yang tak jauh dari saya kah? Atau mungkin bahasanya asyik karena di tulis oleh seorang mantan wartawan Tempo dan VOA? Ahmad Fuadi seorang alumni dari ponpes Gontor ini telah berhasil merebut hatiku. Meski ceritanya menurutku rada mirip, rada lho nuansanya saja ahhh bukan-bukan spirit saja dengan kisah Laskar Pelangi entahlah tapi yang kutahu bahwa persahaban, keikhlasan dan perjuangan itu tidak hanya terselip di tanah Belitong. Tapi juga berada di seluruh penjuru negri ini. Hebat sekali negeri ini kalau semua manusianya memiliki jiwa yang besar. Bukan skeptis untuk memandang sesuatu hal karena tak ada hal yang tak bisa dicapai manusia didalam hidupnya. Man Jadda wajada.

0 komentar:

Poskan Komentar