Ngobrol bareng....

Berasal

Kamis, 01 Oktober 2009

Dahsyatnya Lebaranku

Memang, menurutku kali ini Idul Fitri 1430 H paliiiiiiiing dahsyat. Tersebab lain dari pada biasanya. Lebaran di bulan kah? Oh bukan-bukan yang tepat lebaran di matahari hoho ini lebih ngarang lagi. Aku selama lebaran terkapar terus di kamar tidur, tubuh tertutup terus dengan selimut. Kepala terasa berat banget, kalo perut di paksain makan (habis diancem mulu sambil ditodong obat, ini namanya paksaan) walhasil ini yang di perut keluar semua, dan habis itu terasa pahit tenggorokan.

Kronologis kejadiannya begini :

13 Sep: Terjengkang ah bahasa paling enaknya apa yah, terpeleset, terjerembab, terperosok masuk kedalam pot-pot bunga udah gitu di sana ada pohon kaktus yang besar banget. Tapi nggak kerasa sakitnya malunya iya. Semua orang ngeliatin, habis itu ngetawain (Huh! Bukannya nolong, pura-pura nggak tahu). Kejadian ini tepat saat pulang terawih karena bingung ada tetangga kost yang yang mau dibawa kerumah sakit, ceritanya mau urun saran dan bantuan, eh nggak tahunya malah bikin heboh. DAsaarr.



15 Sep : Kaki kanan terasa sakit apalagi didibuat terawih.
26 Sep : Kaki bengkak, bingung habis mandi saja susah mau gerak dari duduk terus berdiri kayak nginjek duri. Ketika sahur semua orang yang berada di sekitar telingaku menyarankan untuk pijet, hatiku sih nggak mau tapi apa boleh aku juga nggak punya apa yang harus aku lakukan untuk kaki tercintaaahhku ini. Diurut, ya Allah sakitnya padahal saya udah teriak-teriak tapi tukang jagal kaki itu ups maap buk tukang pijit tanpa bersalah dan berdosa tetap memijit.

17 Sep : Balik kerumah, kaki senut-senut kalau jalan berasa sexi. Mamah panik.
18 Sep : Alhamdulilah memabaek, di lulur beras kencur di elus-elus bukan di pijit lho sama mama. Kalo pun mau ditekan nggak keras-keras banget. Berasa sudah enakan sama adiku yang baru ketemu mutusin jalan-jalan. Oh ya beli baju lebaran, nggak kerasa kalo kaki baru membaik. Nah bukanya dahsyat sama ikan gurameh bakar.

19 Sep : Yippi, kakiku nggak kenapa-napa. Tapi kenapa badanku malah panas gini yah. Ah di bawa asyik aja.
Sianganya : kan orang rumah pada sibuk nyiapain makanan buat lebaran kok kayaknya tubuhku nggak semangat untuk jingkrak-jingkrak. Pengennya berbaring mulu. Ya bukannya ikut pusing nentuin lebaran jatuhnya kapan tapi entah kenapa buat melototin tipi aja pusing dan nggak kuat kepala ini di ajak untuk tetap berdiri.

Sorenya : Aku paksain mandi masa malam lebaran bau, tapi pas mandi kulihat tubuhku memerah, benjolan2 keluar. Ah iya aku tahu. Aku alergi makan ikan gurame. Aaaahhhhh.
Malemnya : Tubuhku terasa dingin, tapi kata orang yang terpaksa sebenarnya mau silaturrahmi malah sibuk ikut ngurusin aku dan saat megang tubuhku panas sekali. Maaf yah saudara-saudaraku telah mengacaukan lebaran yang indah kali ini. Jadi malah ikut mijitin, ngambilin ember buat muntah2ku, ponakan-ponakan kecilku yang mau rebut dan nyalain kembang api disuruh nggak rebut, padahal nggak papa juga toh nggak ngurangin pusingku. Takbir berkumandang dimana-mana meski dengan awal yang ragu-ragu karena nunggu putusan mentri agama. Malemnya nggak bisa tidur. Dokter datang kerumahku (Maksih banget mang Awingku tersayang) nawarin banyak obat lagi. Dan berhasil mebuatku tidur.

20 Sep : Rumah gaduh biasa mau nyiapin sholat id, Oh Tuhan tapi aku hanya biasa terbaring. Sedih. Lebih sedihnya lagi adikku yang baik jadi nggak bisa ikut sholat juga karena dapet giliran nungguin aku, kan nggak bisa berkeliling desa dan special makan bareng nenek sekeluargalah pokoknya. Tersebab diriku sakit cucu tercantiknya ini (Weks) jadi kumpul pindah kerumahku nenek yang berkunjung. Uwak, mamang, bibi, semua-muanya lah malah kumpul dirumahku dan berempati melihatku.

Ya Allah entah bagaimana saudara-saudaraku yang lain, yang kemarin, yang minggu lalu atau yang baru saja tertimpah longsor, gempa, banjir, kebakaran, atau bagi mereka boro-boro bisa merayakan lebaran dengan opor, baju baru, sandal baru. Tempat tiggal saja tak punya, sanak saudara entah kemana. Mungkin merekalah yang bisa merasakan bagaimana sebenarnya lebaran dengan yang “baru”. Yah hati yang baru. Sepertinya mereka terus menggali apa itu ikhlas, menerima, memafkan dan masih sempat menyunggingkan senyum. Lha kalo kita kenapa nggak bisa hanya untuk menyungingkan senyum orang semuanya ada.

Ya Allah terimah kasih telah menyentilku untuk lebih peka kembali, bukannya puasa belajar untuk bisa mengerti keadaan saudara2 yang setiap kali menahan lapar, dan setelah itu kita diajarkan untuk berbagi dengan Zakat fitri.
Aku mungkin sakit lebaran kali ini nggak bisa makan opor dan kawannya tapi besok sembuh masih bisa makan opor lagi, lha mereka yang benar-benar tak mampu?

0 komentar:

Poskan Komentar