Ngobrol bareng....

Berasal

Selasa, 16 Maret 2010

Negeri Van Orange


Penulis : Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizky Pandu Permana
Penerbit : Bentang Putaka
Cetakan : Keempat, agustus 2009
Tebal : 478 hlm; 20,5 cm


“Saktinya masa muda. Semua pintu kesempatan dan kemungkinan masih terbuka lebar dan terhampar luas. Ibarat slogan Nike Imposible is nothing” (hal:227)

Persahabatan mereka terbentuk hasil kerja konspirasi semesta yang mendamparkan mereka di bandara Amersfort dan semakin direkatkan dengan sebungkus kretek. Mereka pemuda pemudi Indonesia yang sedang mengejar ilmu pengetahuan di negeri kincir angin. Alasan mereka jauh-jauh ke Belanda berbeda-beda dan mereka semua tidak ada yang mempunyai angan-angan sebelumnya sampai ke negeri yang termahsyur dengan bunga tulipnya ini.

Iskandar atau Banjar misalnya punya motivasi awal karena hasil tantangan temannya Goz, bahwa Banjar berani nggak hidup melarat di negeri orang merelakan hidupnya yang mewah sebagai esmud dan anak juragan bawang ini.Alasan Wicak, dari pada mati konyol dikeroyok para cukong karena kedoknya sudah ketahuan sedang menyamar menjadi pembalak di Kabupaten Berau dan jaringannya yang sampai kepada tingkat petingggi negeri, dia lebih baik mengamankan diri di Belanda. Dan alasan Daus adalah untuk manaikan gengsi kala reunian, dia udah males diledekin mulu gara-gara jadi pegawai DEPAG. Lintang satu-satunya perempuan yang hobi menguncir rambutnya dan jago menari ini memutuskan ke Belanda karena hadiah ulang tahunnya yang ke dua puluh lima yaitu polis asuransi yang premisnya udah habis. Eits, ada satu lagi lho anak juragan angkutan umum namanya Geri berparas ganteng, kaya baik pula. Yang berhasil membuat pasaran para perjaka tanah air turun pasaran.

Persahabatan mereka terus dipupuk dengan YM-an sampai mata jereng, saling mengunjungi dan makan-makan atau sekadar ngumpul minum kopi traktiran. Tapi jangan kira hidup mereka penuh hura-hura terus, mereka harus hidup pas-pasan juga(ehm, kecuali geri sih). Kerjaan apa saja mereka lakoni untuk menambah uang beasiswaan yang ngepas itu. Persahabatan mereka pun tak selamanya lurus harus ada ujian yang akan menilai seberapa besar arti persahatan mereka. Diseling dengan cerita percintaan dan bertaburan diskripsi tempat di belanda yang menggoda untuk dikunjungi menjadikan buku ini layak untuk dibaca sampai ahir halaman. Dan ketika menutup sampul belakangkangnya dengan senyum sumringah.

Bahasanya yang asyik melupakan susahnya mengingat dan belibet mengeja kosa kata baru dari belanda, misal verblijf atau Rijswijk. Di tambah bonus tips selama tinggal di Belanda dari mulai gimana untuk mendapatkan sepeda sampai eurotrip ada di sini. Aku paling suka kalau lagi nyeritain Daus yang selalu gagal meminum minuman keras, tumpahlah, lupa dipesanlah. Sumpah!, mujarab bener ajian engnkongnya ini. Dan percakapan yang aku paling suka adalah

“Tunggu sedentar dek Lintang” Sanggah seorang lain dengan cepat. “Apa tidak lebih baik kita juga menjaga eksklusivitas ilmu tradisional kita, agar tidak dicontek Negara lain? Lihat itu begitu banyak produk budaya kita yang sudah dipaten Negara lain karena kita tidak mampu menjaganya”
Kini giliran Wicak yang berkomentar
“Bapak, kini saya balik bertanya. Kalau seorang ingin belajar karate, apa iya harus tinggal di Jepang? Kalau mau belajar tari perut apa harus ke Mesir dulu? Tplong jangan mencampuradukan masalah hak paten dengan keinginan mempromosikan budaya tanah air kita!”.
Gambar aku rebut di Internet.

0 komentar:

Poskan Komentar