Ngobrol bareng....

Berasal

Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 September 2010

The Lost Symbol



The Lost Symbol

Penerjemah : Inggrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit : Bentang
Cetakan : Pertama, Januari 2010
Tebal : 712 hlm;23,5 cm

Seneng banget deh, Bang Brown ini bikin cerita yang ada tulisan dibelakang buku atau salah satu endorsernya bilang cerita ini bakal menguncang dunia yaaah minimal Ameriakalah. Seperti buku-buku terdahulunya, alurnya mirip kayak naik mobil di pegunungan. Pembaca dibuat penasaran dengan cerita-cerita sekelabat, seperti dipegunungan sebelum sampai pada puncak kita disuguhi pemandangan keren tapi kalau ada belokan atau sedikit saja ditutupi awan kita jadi punya hasrat pengen cepet nyampai. Seperti apa sih pemandangan di puncak itu. Pokoknya meski tebel nih buku, tapi tidak kerasa tiba-tiba sudah berada di halaman berapa gitu.

Meski untuk menuju puncak kita pusing, yah aku pusing dengan penjelasan-penjelasan symbol yang ada. Tentang Segi Empat Ajaib Durer misalnya, sampai saya melihat berulang-ulang lukisan Malencolia I. Saya sering kalau sedang membaca buku misteri terus di dalam bukunya ada gambarnya saya liat-liat dulu gambarnya, berusaha mencoba memecahkan sendiri. Dan seringnya saya salah tebak. Di dalam kesalahann tebakan saya itu saya ditambah pengetahuan baru salah satunya tentang ilmu Neotic yang dipelajari oleh Katherine. Ilmu yang konon menggabungkan mistisme dengan fisika.

Salah satu penelitian Katherine katanya akan menjawab apakah ada dunia lain setelah kematian? Wah berarti keren banget kan? Terus dia juga meneliti tentang kekutan pikiran bahwasannya kalau suatu pikiran bisa difokuskan pada salah benda fisik, benda itu akan berubah sesuai dengan apa yang pikirkan. Ini bisa dipraktekan pada ilmu kesehatan.

Apalagi pas sudah di ahir dari novel ini benar-benar menemukan symbol yang hilang itu, sybol yang sebenarnya ada di depan kita, dan seringnya kita lupakan.
Duh berasa di puncak dengan disekelilingi pemandang yang menakjubkan.

Senin, 21 Juni 2010

Midnight Sun in Japan as Song of the Sun (タイヨウのうた, Taiyō no Uta)


Ketika kebanyakan orang memulai hidupnya saat matahari terbit koaru (Yui) lebih memilih membungkus tubuhnya dengan selimut dan mengurung diri di dalam kamar. Cahaya matahari bukan sahabat baiknya, penyakit XP menjadikan dia manusia malam. Dia keluar sehabis makan malam di dekat stasiun sambil memangggul gitarnya selayaknya anak-anak seusianya yang pergi kesekolah di pagi hari sambil memanggul tas.
Sesampainya di tempat tujuan Koaru menyalakan lilin, memetik senar gitar dan terciptalah nyanyian-nyanyian tentang dirinya dan matahari.

Xeroderma Pigmentosum adalah suatu jenis penyakit yang sangat sensitive terhadap matahari. Ketika kulit terkena sinar UV, kulit akan menjadi hitam dikarenakan kerusakan tatanan DNA. Dan bagi koaru itu berarti hanya mampu memandang dunia siang dibalik jendela kamarnya. Jendelanya menghadap tepat pada pemberhentian bus, dan di jam itu setiap harinya dia mengamati seorang lelaki seusinya. Cowok itu membawa papan surfing bersama dua temanya. Dan setiap kali dia mengamati selalu saja ada kelakuan cowok tersebut yang konyol, dan selalu berhasil membuat Koaru tersenyum.

Koaru mempunyai sahabat baik yang hobi bolos sekolah dan lebih memilih main ke rumah koaru namanya Misaki Matsumae. Ketika Misaki mengetahui Koaru senyam-senyum sambil menatap keluar jendela tahulah kalau Koaru naksir dengan cowok tersebut. Misaki berusaha mencari tahu cowok itu yang ternyata teman sekolahnya. Semua kegiatan cowok tersebut direkam Misaki dan tahulah kalau cowok itu bernama Koaji. Sambil membawa rekaman yang disimpan di Video recorder, Koaru mendatangi tempat-tempat yang dikunjungi Koaji, dia duduk ditempat sama dan meminum minuman yang sama seperti yang dilakukan Koaji.

Dan terciptalah sebuah lagu untuk koaji, eh dilalah koaji lewat di depan koaru dan tak sengaja mendengar dia nyanyi. Singkat kata mereka berteman dan membuat janji ketika liburan musim panas Koaru akan menyanyi di depan Koaji. Malam musim panas itu tempat yang biasa koaru gunakan nyanyi ada yang menempati jadi koaji punya ide untuk mengajak Koaru nyanyi di tempat lain. Di tempat baru itu karena tempatnya dekat pusat perbelanjaan, banyak sekali yang menonton. Koaru sangat memukai malam itu.

Selanjutnya mereka menghabiskan malam dipantai, koaru lupa waktu. Pas koaji bilang dia akan menunjukan bisa surfing saat matahari terbit. Koaru langsung sadar, dia meminta pulang, dia berlari berkejaran dengan matahari terbit. Dia tak mau ketika sampai terkena pancaran sang surya. Kakinya tak sampai menyentuh pintu, tangannya terpercik mentari pagi. Koaji heran kenapa Koaru tiba-tiba meminta pulang. Koaji benar-benar tak tahu kalau sinar mentari yang sangat dia sukai bisa melukai bahkan membuat mati Koaru.

Kalau sekali atau dua kali mengahabiskan pagi yang indah dengan menggulung badan di kasur mungkin nikmat sekali tapi entahlah kalau itu seumur hidupmu. Dan Yui sangat apik memerankan Koaru. Selain karena dia sebenarnya memang penyanyi dan ahli dalam main gitar, tubuhnya sangat mendukung. Kecil dan putih pucat. Ini film satu-satunya Yui. *eh bener kan??*. Jadi bagi penggemar Yui jangan sampai nggak nonton. Aduh ini film lama kali jadi kalian udah pada nonton toh?.
Ini film recommended dari adiku. Meski ceritanya mello tapi nggak mendayu-dayu. Aku meneteskan air mata ketika Koaru bilang ke ayahnya “Kalau memang penyakit ini ada obatnya dan saya akan baik-baik saja kenapa ayah bilangnya tidak pernah menatap mataku” mata ayahnya basah dan benar-benar tak bisa menatap mata anaknya. Dan ketika Koaru tak bisa memetik gitar lagi karena jari-jarinya kaku. Sehingga menghasilkan nada yang sama karena hanya mampu menekan satu kunci saja. Aku seneng film ini karena seneng denger ost nya dulu . seperti it’s happy line, Goodbye days dan skyline.

Minggu, 13 Juni 2010

Selimut Debu


Judul : Selimut Debu
Category: Books
Genre: Travel
Author: Agustinus Wibowo
Penerbit : Gramedia

Hah, jalan-jalan ke Afghanistan?
Mau cari mati?
Mau belajar cara ngerakit bom?
Apa enaknya jalan-jalan di sana? please tell me why? mungkin itu yang ada di pikirannya orang awam kayak diriku inih. Tapi entah kenapa satu orang inih malah pengen tinggal dan mengenal negara tersebut. Dia terpikat sejatinya negara Afghanistan tak seperti apa yang di pikir orang kebanyakan. Dia ingin menyingkirkan selimut debu yang melingkupi Afghanistan. Yah, dia ingin berpetualang.

Agustinus tidak langsung sekonyong-konyong kok datang ke Afghanistan, yang diceritakan di buku inih banyak tentang kedatangan keduanya pada tahun 2006, dia pun terlebih menaklukan nepal, india dan pakistan. Sebagai wartawan cara berceritanya sangat memikat. Menjaga ritme dimana pembaca harus menarik napas dan meneror pembaca yang tidak menghabiskan bacaannya seperti dihantui, kalau tidak selesai berarti sama saja sedang membunuh sang tokoh.
Ketika Agustinus berada di Ghor misalnya yang kering kerontang saya ikut haus, dan langsung deh buru-buru ambil air, pengennya langsung tidur tapi terbayang Agustinus ketemu kendaraan ke Bamiyam nggak nih. Ada samovar yang menyediakan teh tidak? walhasil sayah harus menyelesaikan bacaan malam itu juga.

Sedikit demi sedikit debu yang menyelimuti Afghanistan disibak, melalui perbincangan Agustinus dengan penduduk setempat. Tentang hijab burqa warna bitu yang di pakai oleh kaum perempuan disana yang katanya sudah ada sebleum islam. ini adalah sebuat adat. tentang Taliban, Mujahidin, ladang opium dan tentang bachabazi atau hubungan sexsual antara dua pria, biasanya konotasinya adalah lelaki yang lebih tua "bermain" dengan bocah yang lebih muda.

Seperti yang di tulis dalam epilog buku ini.
Perang datang silih berganti, melumat generasi demi generasi. Ada kebanggaan dan kehormatan yang tak boleh dikorbankan sekalipun nyawa menjadi taruhan. Ada mimpi yang tergantung, juga mperjuangan melawan penindasan, berpadu dengan kemurahan hati untuk mengulurkan tangan, menawarkan hangatnya teh hijau segar, dan menyajikan roti bagi musafir malang. Tak peduli betapapun miskinnya, sekalipun dapur pun tak lagi mengepul dan minyak telah mengering, melayani tamu dan berbagi makanan adalah kebanggaan yang tak berbanding
. yah mehman navazi, keramahtamahan adalah jalan hidup.
Disertai cerita gunung yang indah, see??? aku ingin ke Afghanistan.

Di buku ini juga di selipkan beberapa foto, sedikit sih tapi kalau kurang puas liat saja di webnya . Oh ya cerita petualangan mas agus (halah, sok kenal) sering dimuat seri petualangan di kompas.com

Kamis, 05 November 2009

Giganto Primata Purba Raksasa di Jantung Borneo

Penulis : Koen Setyawan
Penerbit : Edelweiss
Cetakan : I, Agustus 2009
Tebal : 440 hal.
ISBN : 979-979-19624-7-6

Hutan selalu menyimpan misteri, dari rimbunnya pohon entah berapa banyak yang saya tak tahu namanya dan jangan tanya tentang spesies binatang yang mendiaminya? Saya ambil kain putih. Nyerah. Tapi beda dengan mereka yang banyak mengabdikan dirinya pada hutan, mereka mengenalnya, memahaminya dan mencintainya. Mungkin salah satunya Erwin Danu seorang peneliti orang hutan yang telah tiga tahun mendiami hutan di pedalaman Kalimantan. Dia tinggal dirumah panggung sendirian, berkeliaran hanya ditemani alat-alat kerjanya, menggantung di pohon dan memandang orang hutan dari kejahuan dengan teleskopnya dan dengan secara terperinci mencacat segalanya di blocknote. Tapi entah kenapa hari itu Orang Hutannya menghilang. Ini kejadian ganjil baginya, dan hari-hari setelah menjadi sangat aneh.

Erwin Danu memang sangat kenal dengan tempatnya tapi tidak dengan hutan rinbun di sebelahnya, Hutan Larangan. Seperti dengan namanya Larangan hutan itu memang dilarang untuk dimasuki, mitos yang beredar bahwa ada penunggunya dan mereka menyebutnya Batutut dan bagi siapa saja yang melanggarnya nyawanya tak akan selamat. Mitos itu semakin menghantui apalagi setelah empat bulan belakangan banyak yang meninggal setelah mereka mendekatkan diri pada hutan Larangan, tapi ada satu anak yang selamat Ruhai namanya entah itu keajaiban atau apa yang jelas menambah keyakinan bahwa mitos Batutut memang benar adanya.
Chudry Teja seorang antropolog berusaha mencari temannya yaitu Komara yang menurutnya telah hilang di Hutan Larangan selama enam tahun, dia mengajak Tran orang Vietnam yang sangat tergila-gila dengan Giganto atau bagi orang Nepal menyebutnya Yeti, di China Yeren, dan di Vietnam sendiri Nguoi Rung. Binatang yang besar dan berbulu ini di yakini telah punah selama 100.000 tahun, tapi baginya Giganto benar-benar masih ada. Dan mungkin di pedalaman Kalimantan ini pencariannya berahir, jadi ajakan Chudry sangat membuatnya semangat.

Mereka bersama-sama menembus Hutan tabu itu dengan tujuan masing-masing, apalagi setelah muncul Martin yang tubuhnya mirip manusia Neandertal tersebut. Dia terlalu diam dengan mata nyalangnya. Hutan semakin menelan siapa saja yang memasukinya, sungai yang mengalir jernih dan tenang belum tentu mudah untuk melaluinya. Pun senjata yang mereka bawa belum mampu mengusir ketakutan akan datangnya Batutut secara tiba-tiba.

Buku ini benar-benar mampu menyeret saya, dan menghadirkannya di depan mata. Diskripsi tempat yang apik di padu dengan narasi yang mengalir menambah pesona buku ini, ketika ingin menjelaskan keterangan ilmiah mampu memasukkannya dalam setiap percakapan dengan luwes, jadi tidak bikin ngantuk.

Rahasia Kaum Falasha

Judul Buku : Rahasia Kaum Falasha
Penulis : Mahardika Zifana
Penerbit : Edelweiss
Cetakan : I, Januari 2009
Tebal : 422 hal
ISBN : 978-979-17401-5-1

Harta karun selalu saja menggiurkan bagi siapa saja yang mendengarnya? Terlepas itu hanya mitos atau pun dongeng klasik yang dibacakan sebelum tidur, karena kita sudah ter-sugesti (Romy Rafael kaleee) bahwasannya harta karun pastilah hal-hal yang indah jadi membicarakannya saja menyenangkan, apalagi ada petunjuk untuk menuju kesana. Bayangkan tiba-tiba kau menemukan kertas kusam dengan petunjuk aneh berupa garis-garis petunjuk atau rangkaian puisi yang memiliki arti sangat kuat yang akan menuntunmu ketempat harta karun di rumah yang baru saja kau beli dan AHA ternyata di bawah lantai yang sedang kau injak terdapat emas sebesar karung. Menyenangkan sekali bukan.

Tinggalkan khayalanku itu, ada yang lebih menarik dari sekedar harta karun biasa ialah The Ark of Covenant atau Tabut Perjanjian, yang dipercaya hilang dengan banyak segala versinya itu.Salah satu versinyanya tabut perjanjian itu di serahkan kepada Menelik, putra Raja Sulaiman dari Ratu Saba. Dan tentu saja banyak yang memburunya terutama bagi kaum Yahudi yang mensucikan benda tersebut, The Knight Zion nama organisasinya. Mereka memburu dengan culas dan menyebarkan kengerian bagi siapa saja yang menghalangi rencananya.

Heri seorang mahasiswa Indonesia yang sedang melakukan penelitiannya di Ethiopia tewas. Misteri kematian Heri membawa sahabatnya Esa berpetualang dari Negara ke Negara lain, dengan dibantu Nisa mereka terus melawan waktu untuk menguraikan berbagai masalah yang tiba-tiba saja menjadi rumit dan pelik. Kehadiran Indra seorang tersangka utama pembunuhan Heri dan sekaligus saksi dan dipercaya mampu akan sedikit mengurai masalah jika bertemunya, malah membawa mereka bertemu dengan ajal yang semakin cepat.

Akankah mereka dapat terlepas dari ajal yang menghantui? Bagi yang sudah sering baca cerita bertema Misteri apalagi yang bertema tabut perjanjian akan mudah menebaknya, karena sudah pernah ada dipasaran. Tapi kalau yang menulis penulis Indonesia dan diambil dari sudut seorang Filolog Muslim mungkin akan berbeda.
Novel ini kaya dengan pengetahuan, tapi sayang tidak dibarengi dengan penututuran yang apik, narasi untuk menciptakan kemisteriusan seperti tidak sampai puncak, seperti banyak tokoh yang tiba-tiba menjadi pahlawan dan mengakibatkan pendiskripsian tokoh tidak kuat alhasil alurnya dipakasakan agar mencapai tujuan dari inti novel ini. Di kavernya terpampang tulisan “Akan menjadi film kolosal pertama dalam sejarah Indonesia” dan doakan saja semoga tak mengecewakan.

Senin, 24 Agustus 2009

Perang Bubat : Tragedi Dibalik Kisah Cinta Gajah Mada dan Dyah Pitaloka



Penulis : Aan Merdeka Permana
Penerbit : Qonita
Cetakan : II, Juni 2009
Tebal : 336 hal.: 20,5 cm
ISBN : 978-979-3269-87-0

Pesona Putri Dyah Pitaloka tidak ada yang menandinginya, tutur katanya santun, tindak tanduknya selalu penuh keramah tamahan dan setiap tersenyum lesung pipitnya tersembul menambah apik perangainya. Sang putri adalah keturunan darah biru ayahnya seorang raja di Kawali yang bernama Prabu Lingga Buana yang disegani dengan kebijaksaan, jadi tak heran jika banyak orang yang mengidamkan hatinya. Termasuk seorang pria bermata sedikit sipit dan berhidung besar Jaya Sakhsena Rakhsi Ramadaksena atau sering dipanggil Ramada, dia hanyalah seorang pegawai bawahan yang sewaktu-watu dipanggil di keraton untuk mengukir pintu atau pun untuk menggambar.

Sang Putri bagaikan Bulan yang tak mungkin tergapai apalagi setelah sang Raja berucap bahwasaanya percakapannya antara Putri Dyah dan Ramada tentang Ikan benar adanya. “Ikan Mas adalah ikan mas dan ikan impun tetap ikan impun” Putri adalah ikan mas dan Ramada tetaplah ikan impun yang tak ada artinya. Ramada sadar diri bahwasannya kedekatannya dengan putri tidak disetujui oleh Raja, dia berkelana dan meninggalkan sunda, menuju kerajaan Wilwatikta dengan bekal semangat bahwasannya seekor ikan impun bisa berubah menjadi ikan mas kalau mau berusaha. Dia ingin dihargai bukan karena asal-usulnya tapi atas usahanya, diapun tak pernah membuka bahwa sebenarnya dia keturunan cina dan banten dahulu dia bernama Ma Hong Foe.

Setiap perjalanan yang dia tempuh, Ramada bertemu dengan guru-guru yang hebat dari yang mengajarkan kenegaraan sampai bagaimana menggunakan taktik perang yang jitu. Dia terus berkembang hingga sampai suatu saat sang ikan impun diangkat menjadi Basendewa bagi kerajaan sunda atau bagi kerajaan Majapahit dialah sang Mahapatih Gajah Mada yang memiliki Amukti Palapa yang direstui dewa-dewi dengan serbuan kilat dan gelegar semesta “Aku tidak akan menikmati kehidupan duniawi sebelum Nusantara bersatu di bawah panji Majapahit” sang Mahapatih terus menjadi kuat di segani oleh berbagai Negara bahkan oleh rajanya sendiri Hayam Wuruk.

Banyak penghargaan yang disematkan untuknya tapi apalah daya jika seorang yang dicintainya harus rela dinikahi oleh Hayam Wuruk bukankah dia harus tetap melaksakan tugas Negara meski apapun yang terjadi. Dan itu sama saja seperti mengkhiyanati Amukti Palapanya sendiri, ambisinya untuk menyatukan nusantara tak akan pernah terjadi karena sunda akan menjadi besan majapahit berarti sunda sederajat dengan majapahit. Dan entah kenapa kejadian Perang Bubat bisa terjadi? Dan kemanakah lenyapnya Putri Dyah Pitaloka?.

Aan Merdeka Permana telah lama bergelut dengan dunia kesundaan jadi tak heran mungkin kalau di novel yang setebal 336 halaman ini menurutku banyak menitik beratkan di wilayah sundanya. Penelitiannya yang lama tentang Perang Bubat sungguh terasa nikmat karena dibalut dengan bahasa fiksi. Dia juga sudah menegaskan dalam kata pengantarnya “pembaca harus ingat : ini bukan novel sejarah!”.

Serunya novel ini karena banyak di temui tempat-tempat ataupun alat-alat yang bernama asli Indonesia, misalnya untuk nama keratin Keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati dan banyak nama-nama tokoh yang keren abis jadi terinspirasi untuk referensi nama anak *waaaw*. Ada Nyi Gianti, Kakang Rakean Rangga, Ki Mantri Supit Kelilingking dan masih banyak lagi.

Quotes:
“Engkau benar, seorang pengurus kuda tak layak disebut berjasa hanya lantaran bisa mengurus kuda dan membersihkan istal, sebab dia dibayar untuk itu. Lalu seorang mahapatih pun tak perlu menepuk dada memiliki jasa besar sebab dia pun dibayar untuk itu,” kata mahapatih Mada. Mengapa mesti disebut jasa untuk sebuah kewajiban.”

“ini kenyataan. Cintamu yang membabi buta itu sebenarnya hanya cinta lahiriah, hanya berupa nafsu hati yang serakah. Yang hanya menginginkan seseorang tunduk terhadap kemauan kita. Cinta yang murni adalah membebaskan hati orang yang kita cintai dan bukan sebaliknya mengurungnya dalam kerangkeng ketidakbebasan atas nama kesetian,” Ki Mantri supit Kelilingking.

Kamis, 20 Agustus 2009

Negeri 5 Menara (Man Jadda Wajada)


Judul : Negeri Lima Menara

Penulis : A. Fuadi

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : Juli 2009

Tebal : 416 hal

ISBN : 978-979-22-4861-6

Harga : 50.000 ,_

Man Jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Pepatah dari Arab itu masuk mengaliri jiwa Alif, mengendap di dalamnnya dan berhasil menjadi pedongkrak kebimbangan dari keputusan yang Ia ambil. Pergi dari kampung halaman yang permai di danau maninjau yang biru lantas sekarang berkelana di desa yang jauh di Jawa Timur. Itu berarti mengamini perintah Amaknya yang menginginkan anaknya seperti Buya Hamka padahal Alif sendiri ingin seperti Pak Habibie. Perasaan yang setengah hati itu sekarang merembes hilang di bawa mantra sakti mandraguna, Man jadda wajada. Yang di ucapkan oleh kyai Rois saat pembukaan santri baru.

Di Pondok Madani (PM) Alif harus berjuang melawan segala rintangan, dari jajaran keamanan pondok disana bersamayan Tyson yang siap dengan sepeda hitamnnya menjarah para warga PM yang tidak berlaku disiplin yang artinya telah melanggar qanun yang telah ditetapkan dan tak pernah tertulis tersebut karena aturan di PM harus terukir di dalam ingatan semua santri. Dan saat saat itulah Tyson dengan tidak sengaja telah menyatukan meraka di dalam hukuman jewer berantai. Dialah para terdakwa Alif dari Minang, Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Menjadi para Sohibul Menara.

Para Sohibul Menara yang dalam bahasa Indonesianya bararti pemilik menara, sebelum adzan maghrib mereka selalu berkumpul di bawah menara sambil ngobrol ngalor ngidul dan ketika menatap awan mereka mempermasalahkan bentuk awan itu seperti yang ada dalam imajinasi masing-masing, ada yang mirip dengan Benua Eropa, Amerika, Afrika bahkah ada yang tetep mengatakan itulah Indonesia. Dan mereka berharap mendarat di negeri-negeri apa yang telah di imajikan dalam bentuk awan tersebut.

Novel ini, di persembahkan dari hati mungkin, karena sumpah kata-katanya menggedor-gedor jiwa yang sedang resah, atau bagi yang telah merasa capek bahwasannya usahanya telah sepersekian banyaknya tapi belum terjangkau juga. Mimpi-mimpi yang mungkin sudah lama mengantung di angkasa sana ketika tinggal sedikit lagi mendekat di jatuhkan oleh suatu hal, rencana yang tersusun rapih malahan harus rela di rebut orang lain. Mungkin kini saatnya kita harus mengenal kembali konsep keikhlasan, pengabdian tiada batas. Kepada guru-guru kita yang telah rela merentas jalan untuk menunjukan yang baik. Kepada pengurus yang dengan ikhlasnya mengabdikan dirinya untuk mengurus santri yang datang dari berbagai latar belakang.

Karena saya sempat menjadi seorang santri membaca buku ini tidak susah untuk membayangkannya, gimana riuhnya antri dikamar mandi, berebutnya saat melihat pengumuman, atau gimana perasaannya saat-saat penantian wesel dari orang tua ketika sedang muflis benar. Teman disini sudah seperti bayangan saja dimana-mana menemukan dia. Tapi disini lebih parah lagi kalau bayangan kan di tempat yang gelap tak terlihat nah ini kawan di gelapnya kamar masih selalu saja ada dia. Nah, dengan selalu adanya teman disamping kita kadang persaingan begitu terlihatnya apalagi saat-saat mau ulangan. Duh Rabbi setiap mata memandang yang terlihat adalah hawa pelajaran.

Biasanya kalau mau masuk kelas tak ada tuh yang rela masih membawa buku kemana-mana, di bawah pohon kelengkeng, pohon mangga, dipinggir tangga, di depan wc sampai suasana di pinggir jemuran adalah aura ujian.

Tapi kadang juga kenapa hasilnya beda yah, tidur di tempat yang sama, makan dengan lauk yang sama, minum dari sumber yang sama pula tapi koq hasilnya beda yah?? Dia bisa sambil menghapal Al qur’an di sela sibuknya rutinitas, dia bisa mendapatkan nilai sepuluh saya cuma enam, dan kenapa pula dia tidak ngantuk waktu mujahadah ataupun saat tahajud. Dan di novel ini di kuaklah segala rahasia.

“Iya, rugi kalau harus stres, mending kita bekerja keras. Wali kelasku pernah memberi motivasi yang sangat mengena di hati. Katanya kalau ingin sukses dan berprestasi dalam bidang apapun. maka lakukanlah dengan prinsip “saajtahidu fauqa mustawa al-akhyar”. Bahwa aku akan berjuang diatas rata-rata yang dilakukan orang lain. Fahimta. Ngerti kan?”

“Lihatlah, berapa perbedaan antara juara satu lari 100 meter dunia? Cuma 0, 00 sekian detik dibanding saingannya. Berapa beda jarak juara renang dengan saingannnya? Mungkin hanya satu ruas jari! Untuk juara hanya butuh sedikit lebih baik dari orang kebanyakan! Sudah lebih terasa kekuatannya?” halaman 383.

Novel kesatu karena akan ada triloginya, setebal itu dengan cepat saja saya lahap, mungkin karena bercerita yang tak jauh dari saya kah? Atau mungkin bahasanya asyik karena di tulis oleh seorang mantan wartawan Tempo dan VOA? Ahmad Fuadi seorang alumni dari ponpes Gontor ini telah berhasil merebut hatiku. Meski ceritanya menurutku rada mirip, rada lho nuansanya saja ahhh bukan-bukan spirit saja dengan kisah Laskar Pelangi entahlah tapi yang kutahu bahwa persahaban, keikhlasan dan perjuangan itu tidak hanya terselip di tanah Belitong. Tapi juga berada di seluruh penjuru negri ini. Hebat sekali negeri ini kalau semua manusianya memiliki jiwa yang besar. Bukan skeptis untuk memandang sesuatu hal karena tak ada hal yang tak bisa dicapai manusia didalam hidupnya. Man Jadda wajada.