Ngobrol bareng....

Berasal

Minggu, 13 Juni 2010

Selimut Debu


Judul : Selimut Debu
Category: Books
Genre: Travel
Author: Agustinus Wibowo
Penerbit : Gramedia

Hah, jalan-jalan ke Afghanistan?
Mau cari mati?
Mau belajar cara ngerakit bom?
Apa enaknya jalan-jalan di sana? please tell me why? mungkin itu yang ada di pikirannya orang awam kayak diriku inih. Tapi entah kenapa satu orang inih malah pengen tinggal dan mengenal negara tersebut. Dia terpikat sejatinya negara Afghanistan tak seperti apa yang di pikir orang kebanyakan. Dia ingin menyingkirkan selimut debu yang melingkupi Afghanistan. Yah, dia ingin berpetualang.

Agustinus tidak langsung sekonyong-konyong kok datang ke Afghanistan, yang diceritakan di buku inih banyak tentang kedatangan keduanya pada tahun 2006, dia pun terlebih menaklukan nepal, india dan pakistan. Sebagai wartawan cara berceritanya sangat memikat. Menjaga ritme dimana pembaca harus menarik napas dan meneror pembaca yang tidak menghabiskan bacaannya seperti dihantui, kalau tidak selesai berarti sama saja sedang membunuh sang tokoh.
Ketika Agustinus berada di Ghor misalnya yang kering kerontang saya ikut haus, dan langsung deh buru-buru ambil air, pengennya langsung tidur tapi terbayang Agustinus ketemu kendaraan ke Bamiyam nggak nih. Ada samovar yang menyediakan teh tidak? walhasil sayah harus menyelesaikan bacaan malam itu juga.

Sedikit demi sedikit debu yang menyelimuti Afghanistan disibak, melalui perbincangan Agustinus dengan penduduk setempat. Tentang hijab burqa warna bitu yang di pakai oleh kaum perempuan disana yang katanya sudah ada sebleum islam. ini adalah sebuat adat. tentang Taliban, Mujahidin, ladang opium dan tentang bachabazi atau hubungan sexsual antara dua pria, biasanya konotasinya adalah lelaki yang lebih tua "bermain" dengan bocah yang lebih muda.

Seperti yang di tulis dalam epilog buku ini.
Perang datang silih berganti, melumat generasi demi generasi. Ada kebanggaan dan kehormatan yang tak boleh dikorbankan sekalipun nyawa menjadi taruhan. Ada mimpi yang tergantung, juga mperjuangan melawan penindasan, berpadu dengan kemurahan hati untuk mengulurkan tangan, menawarkan hangatnya teh hijau segar, dan menyajikan roti bagi musafir malang. Tak peduli betapapun miskinnya, sekalipun dapur pun tak lagi mengepul dan minyak telah mengering, melayani tamu dan berbagi makanan adalah kebanggaan yang tak berbanding
. yah mehman navazi, keramahtamahan adalah jalan hidup.
Disertai cerita gunung yang indah, see??? aku ingin ke Afghanistan.

Di buku ini juga di selipkan beberapa foto, sedikit sih tapi kalau kurang puas liat saja di webnya . Oh ya cerita petualangan mas agus (halah, sok kenal) sering dimuat seri petualangan di kompas.com

Kamis, 08 April 2010




Bagi ninja di Konohagagure menjalankan misi hukumnya fardhu ain. Membantu warga itulah tugasnya. Kali ini Naruto dapat misi bareng Shino untuk membantu keluarga kaya raya di negara rumput (atau apalah gitu aku lupa) untuk membantu pemakaman ayahnya yang meninggal. Tsunade sebenarnya nggak yakin tugas ini diberikan kepada Naruto katanya wajah Naruto sangat konyol kalau harus ditempatkan di acara pemakaman. Tapi bagaimana lagi shinobi yang tersisa cuma mereka.

Tugasnya sebenernya gampang menggantikan tuan Fu anak sulung dari pengusaha itu saat upacara pemakaman berlangsung. Karena tuan Fu takut dia tertawa saat upacara karena wasiat dari ayahnya kalau tertawa warisan yang diberikan untuknya dibatalkan dan diserahkan kepada angggota keluarga yang tidak tertawa (wasiat konyol). Beruntunglah tugas ini diketuai oleh Shino, tahu sendiri kan Shino tak pernah tertawa bahkan mulutnya tertutup kerah bajunya yang berdiri, jarang bicara dan terlalu pendiam makanya tugas ini sangat cocok untuknya. Dia keturunan dari Klan aburame yang punya kekuatan bisa mengendalikan serangga. Musibah terjadi Shino meminum ramuan yang bisa membuat tertawa, entah kenapa untuk hal ini serangga dalam tubuhnya tak bisa menyaring racun. Alhasil tugas itu dipindah tangankan ke Naruto yang hobi banget cengengesan, liat sesuatu yang aneh sedikit aja dia bisa ngakak.

Saat upaca berlangsung saudara kandung Tuan Fu lainnya yang tak dapat warisan berusaha menggoda Naruto untuk tertawa dengan segala hal, bahkan biksu yang memimpin upacara berusaha menggoda Naruto. Tuan Fu sangat tegang kalau-kalau Naruto tertawa dan jatuh kepada yang lain tapi Naruto sangat berusaha dengan keras menahan rasa gelinya, mukanya sampai merah sampai ingusnya pun keluar, dia terus-terusan mencubit tubuhnya agar terasa sakit dan melupakan adegan yang lucu terjadi.


Di lain sisi Shino sudah mengetahui rahasia huru-hara di balik wasiat yang konyol. Shino berubah menjadi anak-anak yang sedang bertengkar merebutkan mainan lalu datanglah seorang bapak yang memisahkan dan menghibur anak-anak tersebut dengan banyolan konyol dan membuat anak-anak tersebut tertawa kembali dan melupakan masalah mereka. Seisi ruangan pun ikut tertawa tanpa terkecuali keluarga yang sedang berduka dan Naruto yang terpingkal-pingkal. Tuan Fu dan adik-adiknya teringat kalau guyonan tersebut pernah terjadi kepada mereka.

Lalu tiba-tiba orang yang disangka meninggal muncul dengan dandanan yang berbeda, dia menyamar menjadi nenek-nenek. Dia mengarang kalau dia sudah meninggal dan menulis warisan konyol. Baginya kalau dia tak terpaksa mengarang cerita seperti ini anak-anaknya tak akan pernah mau berkumpul. Dia jengah melihat tingkah anaknya yang sekarang. Dulu sebelum dia menemukan menemukan rumput yang ternyata obat tradisional yang dia olah menjadi jamu yang sangat berkhasiat kelurganya selalu di penuhi canda tawa, saat makan bersama atau pun saat menahan lapar. Tapi setelah mereka kaya yang menjadi obrolan hanyalah uang uang dan uang. Yang ada hanyalah persaingan siapa yang paling sukses dan melupakan canda tawa yang dulu menjadi bagian untuk saling menghibur antar sesama. Makanya ayah mereka menulis wasiat seperti ini supaya mereka saling melakukan adegan konyol agar bisa tertawa.

Shino yang tak pernah tertawa juga ahirnya bisa tertawa karena jamu bikinan ayah yang kaya raya itu. Tapi ayahnya tak akan melanjutkan membuat jamu tertawa, karena baginya tertawa juga perlu keikhlasan dari masing pribadi. karena bisa jadi mulutnya tertawa hatinya sedang bersedih.

So, bahagialah kalian yang masih bisa tertawa. Tak perlu Jamu bro.....