Ngobrol bareng....

Berasal

Kamis, 05 November 2009

Giganto Primata Purba Raksasa di Jantung Borneo

Penulis : Koen Setyawan
Penerbit : Edelweiss
Cetakan : I, Agustus 2009
Tebal : 440 hal.
ISBN : 979-979-19624-7-6

Hutan selalu menyimpan misteri, dari rimbunnya pohon entah berapa banyak yang saya tak tahu namanya dan jangan tanya tentang spesies binatang yang mendiaminya? Saya ambil kain putih. Nyerah. Tapi beda dengan mereka yang banyak mengabdikan dirinya pada hutan, mereka mengenalnya, memahaminya dan mencintainya. Mungkin salah satunya Erwin Danu seorang peneliti orang hutan yang telah tiga tahun mendiami hutan di pedalaman Kalimantan. Dia tinggal dirumah panggung sendirian, berkeliaran hanya ditemani alat-alat kerjanya, menggantung di pohon dan memandang orang hutan dari kejahuan dengan teleskopnya dan dengan secara terperinci mencacat segalanya di blocknote. Tapi entah kenapa hari itu Orang Hutannya menghilang. Ini kejadian ganjil baginya, dan hari-hari setelah menjadi sangat aneh.

Erwin Danu memang sangat kenal dengan tempatnya tapi tidak dengan hutan rinbun di sebelahnya, Hutan Larangan. Seperti dengan namanya Larangan hutan itu memang dilarang untuk dimasuki, mitos yang beredar bahwa ada penunggunya dan mereka menyebutnya Batutut dan bagi siapa saja yang melanggarnya nyawanya tak akan selamat. Mitos itu semakin menghantui apalagi setelah empat bulan belakangan banyak yang meninggal setelah mereka mendekatkan diri pada hutan Larangan, tapi ada satu anak yang selamat Ruhai namanya entah itu keajaiban atau apa yang jelas menambah keyakinan bahwa mitos Batutut memang benar adanya.
Chudry Teja seorang antropolog berusaha mencari temannya yaitu Komara yang menurutnya telah hilang di Hutan Larangan selama enam tahun, dia mengajak Tran orang Vietnam yang sangat tergila-gila dengan Giganto atau bagi orang Nepal menyebutnya Yeti, di China Yeren, dan di Vietnam sendiri Nguoi Rung. Binatang yang besar dan berbulu ini di yakini telah punah selama 100.000 tahun, tapi baginya Giganto benar-benar masih ada. Dan mungkin di pedalaman Kalimantan ini pencariannya berahir, jadi ajakan Chudry sangat membuatnya semangat.

Mereka bersama-sama menembus Hutan tabu itu dengan tujuan masing-masing, apalagi setelah muncul Martin yang tubuhnya mirip manusia Neandertal tersebut. Dia terlalu diam dengan mata nyalangnya. Hutan semakin menelan siapa saja yang memasukinya, sungai yang mengalir jernih dan tenang belum tentu mudah untuk melaluinya. Pun senjata yang mereka bawa belum mampu mengusir ketakutan akan datangnya Batutut secara tiba-tiba.

Buku ini benar-benar mampu menyeret saya, dan menghadirkannya di depan mata. Diskripsi tempat yang apik di padu dengan narasi yang mengalir menambah pesona buku ini, ketika ingin menjelaskan keterangan ilmiah mampu memasukkannya dalam setiap percakapan dengan luwes, jadi tidak bikin ngantuk.

0 komentar:

Poskan Komentar